Sudah tidak ada lagi Gunung yang Angker !?
Table of Contents
Cerita tentang keangkeran gunung-gunung selalu menjadi bumbu tersendiri dalam sebuah cerita pendakian gunung. Gunung sangat identik dengan mitos-mitos yang memang sedikit sulit diterima dengan logika kita. Bagaimana sesuatu yang tidak bisa kita raba bisa mempengaruhi kita.
Beberapa tahun lalu, ada beberapa pertanyaan yang yang dilontarkan mereka-mereka yang baru pertama kali mendaki Gunung. Salah satu yang menarik adalah “angker tidak gunungnya”. Dan itu menjadi pertanyaan favorit yang sulit dijawab, mau dijawab angker kok nanti jadi pada parno... dijawab tidak angker kok ya bagaimana...
Nah, akhir-akhir ini sudah semakin jarang orang-orang bertanya tentang hal seperti itu. Paling pertanyaan yang paling banter, “nanti sunrisenya bagus tidak ?” ... atau tentang spot-spot untuk foto-foto. Atau pertanyaan tentang bagaimana keamanan perjalanan dan semacamnya.
Beberapa tahun lalu, ada beberapa pertanyaan yang yang dilontarkan mereka-mereka yang baru pertama kali mendaki Gunung. Salah satu yang menarik adalah “angker tidak gunungnya”. Dan itu menjadi pertanyaan favorit yang sulit dijawab, mau dijawab angker kok nanti jadi pada parno... dijawab tidak angker kok ya bagaimana...
Nah, akhir-akhir ini sudah semakin jarang orang-orang bertanya tentang hal seperti itu. Paling pertanyaan yang paling banter, “nanti sunrisenya bagus tidak ?” ... atau tentang spot-spot untuk foto-foto. Atau pertanyaan tentang bagaimana keamanan perjalanan dan semacamnya.
Sedikit seneng sih ga harus bingung dengan pertannyaan-pertanyaan yang sulit, hingga... beberapa pekan lalu melihat sendiri bagaimana Gunung Slamet dengan julukan Gunung Paling Angker di Jawa dipenuhi 3000 pendaki dalam dua hari. Pos 4 (samaranthu) yang dulunya sangat dihindari buat camp saja sampai penuh sesak dipadati tenda-tenda pendaki.
Memang ketika itu bersamaan dengan event pendakian massal, tapi acara yang menargetkan 500 peserta itu hanya diikuti 200 orang saja. Sisanya dari berbagai kelompok yang secara kebetulan memanfaatkan libur akhir tahun. efeknya tentu sudah tahu kalau didaki segitu banyak orang apa. Tapi untuk beberapa pekan berikutnya dilanjutkan event bersih gunung, mungkin ini sebagai upaya pelestariannya.
Minggu kemaren sengaja naik ke merapi pada tanggal 1, niatnya coba melihat bagaimana keadaan merapi sesudah pendaki tahun baru pada turun. Saya sangat kagum, jalur begitu bersih tanpa sampah. Satu dua bungkus permen di beberapa sudut yang tidak sampai memenuhi Trash bag yang kami persiapkan. Jauh berbeda dari tahun-tahun sebelumnya yang setiap hari-hari besar selalu meninggalkan sampah di beberapa tempat.
Tidak dapat dipungkiri bahwa sedikit banyak kegiatan di alam bebas itu pasti menyebabkan pengaruh terhadap alam itu sendiri, Baik besar atau kecil. Terkadang hanya karena kerusakan kecil saja seperti menginjak rumput bisa membuat dampak yang besar terhadap alam dan juga manusia, baik langsung maupun tidak langsung.
Ada cerita beberapa bulan yang lalu tentang kepanikan beberapa pendaki Semeru yang berpapasan dengan Macan Kumbang. Macan kumbang ini masuk ke jalur pendakian, padahal secara naluri hewan akan menghindar jika mencium bau manusia jika bukan karena hal-hal khusus tertentu. pernah saya di gunung melihat kijang, bahkan kijang itu sudah lari setelah merasakan keberadaan kami dari jarang lebih dari 300 meter.
Meski belum jelas diketahui penyebabnya, namun ada beberapa asumsi. Salah satunya adalah tentang rantai makanan. Di mana makanan alamiah macan kumbang ini mungkin sudah mulai menipis seperti kancil atau lutung. Tentu kancil ini mulai berkurang karena salah satu makanannya mulai berkurang semisal pucuk-pucuk dedaunan yang berair atau rumput.
Setidaknya, banyaknya pendaki akan membuat pemulihan ekosistem semakin lama. Maka langkah yang bagus sudah dilakukan oleh pihak TNBTS dengan menutup pendakian setiap memasuki bulan Januari untuk konservasi ini. dan mungkin hal ini juga bisa ditiru oleh pihak pengelola pintu-pintu pendakian yang lain. Untuk pendaki, mungkin ada baiknya untuk sedikit beristirahat di bulan-bulan tertentu. Atau kalau mampu bisa ikut acara-acara penghijaun yang banyak diadakan.
Tentang Keangkeran dan Mitos ?
Jika manusia jaman internet mengatakan konservasi dengan berbagai caranya, misalnya seperti yang dilakukan TNBS. Orang jaman dulu mungkin menggunakan cara sedikit berbeda dan mitos-mitos tentang keangkeran itu muncul. Seperti mitos angker puncak gunung patuha yang konon siapa yang melintas akan mati. Mitos angker pun dibuat agar orang tidak masuk ke sana yang akhirnya celaka. meski pada akhirnya diterobos oleh Junghuhn dan menemukan penyebab kematiannya adalah karena gas beracun. Tapi itu hanya satu kasus saja yang tidak bisa mewakili berpuluh-puluh Gunung yang lain. Terlebih jika kita tidak begitu mengerti seluk-beluk Gunung.
Dan mengenai makhluk halus di Gunung, tentu saya sangat percaya ! mereka ada dan mereka sudah sangat bijak untuk selalu menjauhi tempat-tempat yang dihuni manusia. Dan bukan tidak mungkin gunung-gunung yang sepi menjadi rumah yang nyaman bagi mereka. Dan ketika memasuki rumah orang lain, SANTUN adalah kewajiban kita.

Post a Comment