Mencicipi Mie Ongklok Bareng Bimbim Slank

Table of Contents
Dieng Culture Festival, itulah yang membawa kami berempat memacu motor menuju ketinggian Dieng. Ada beberapa acara sebelum akhirnya ritual Cukur Rambut Gimbal digelar sebagai puncak acara DCF (Dieng Culture Festival). Salah satunya adalah Jazz Atas Awan, ini yang membuat penasaran teman saya AW, yang akhirnya merancang perjalanan kali ini. 

Karena jadwal penampilan Jazz Atas Awan ini dipentaskan pada Jum’at malam akhirnya sangat tidak mungkin bagi kami untuk menyaksikannya. Sebagai gantinya masih ada beberapa agenda dalam DCF kali ini, yaitu Pesta Lampion dan Kembang Api. Dan meluncurlah kami pada sabtu siang. 

Setelah memacu motor selama kurang-lebih 2 jam akhirnya kami berhenti untuk Sholat Dzuhur di Masjid Al Manshur Wonosobo.  Setelah istirahat sejenak, ini adalah saatnya untuk mengisi perut yang mulai keroncongan. Ada beberapa menu makanan yang sempat membuat kami berempat bingung. Namun akhirnya pilihan jatuh kepada menu khas Wonosobo, apalagi kalau bukan Mie Ongklok. Yang mana pada kesempatan yang lalu tidak sempat untuk mencicipinya. 

Tentu warung yang menyediakan mie unik ini ada banyak sekali di Wonosobo.  Dari semua itu ada satu yang paling banyak direkomendasikan, Mie Ongklok LONGKRANG di Jalan Pasukan Ronggolawe no. 14 Longkrang Wonosobo. Sepintas tampak biasa saja dari luarnya namun pelanggannya luar biasa banyak. Setelah memastikan apakah ada tempat duduk mas JK langsung pesan.

Tak kurang dari 15 menit menunggu akhirnya pesanan datang, 4 porsi Mie Ongklok. Belum juga kami sentuh, kehebohan terjadi. Beberapa orang dengan kamera tampak berlarian keluar Warung itu. Penasaran kamipun mencari penyebab kehebohan, dan ternyata... orang-orang itu berebut untuk foto dengan Bimbim Slank, jiaann... ndeso tenan ! hehe.  Anyway, warung ini memang terkenal rupanya. Katanya sih mantan Presiden RI SBY juga langganan di warung ini.

Berhubung kami juga orang “Ndeso” maka tak salah jika kedua teman saya ikutan minta foto sama Bim-bim. Drumer Slank ini menyempatkan untuk makan mie Ongklok sebelum malamnya akan main di Alun-alun wonosobo dalam puncak rangkaian kegiatan Hari Jadi ke-190 Kabupaten Wonosobo. 

Lanjut ke mie ongklok yang mulai dingin, melihat raut muka mas Bim-bim, saya jadi tambah penasaran sama rasa mie ini. Dari jauh tampilannya terlihat biasa layaknya mie ayam dengan taburan sayur dan bawang goreng di atasnya. Akan tetapi jika di amati dengan jeli, akan nampak jika kuah dari mie ini nampak berbeda, berwarna kecoklatan dan agak kental mirip bubur.

Setelah difoto kini saatnya untuk melahap mie yang legendaris ini. Saya mulai mencicipi dari kuahnya, duaarrr... benar-benar terkejut lidah saya,  rasa yang sangat tajam dari kuah yang belakangan saya tahu dari saripati singkong, gula merah dan udang kering (ebi) ini. Rasa asinlah yang pertama muncul diikuti dengan rasa eneg, mungkin dari gula merahnya. Ini kasus istimewa karena saya memang tipe orang yang susah adaptasi sama makanan hehe... 

Namun ternyata ketika dimakan bersama sate sapi yang sudah satu paket ini rasanya menjadi lebih enak. Kata mas-mas yang sama saya kalau dicampur dengan sambal (dari irisan cabe) akan menjadi lebih nikmat lagi. Sayangnya, bagi orang dengan riwayat penyakit maag seperti saya tentu itu sama saja cari masalah.

Overall makanan ini sangatlah lezat dengan harga yang cukup murah, kami berempat hanya menghabiskan 60 ribu saja komplit dengan sate dan lain-lainnya. Siapa saja yang mengunjungi Wonosobo atau mampir ketika ke Dieng wajib untuk mencicipi makanan yang spesial ini. Saya jamin lidah anda akan sangat mengingat betapa khasnya Mie Ongklok ini.

Mie Ongklok Longkrang