Empat hal ini sering dilupakan ketika mendaki Gunung
Table of Contents
Lelah, pegel-pegel setelah mendaki itu wajar-wajar saja, tapi kalau sampai pegel-pegelnya tidak hilang-hilang selama berhari-hari itu yang tidak normal. Apalagi sampai cedera itu sangat tidak diharapkan. Dan parahnya lagi diantara itu menjadi alasan untuk tidak berangkat sekolah atau berkerja. Hal tersebut bisa disebabkan beberapa sebab yang sering dilupakan seperti di bawah ini.
1. Tidak melakukan pemanasan sebelum memulai
pendakian
Mendaki gunung itu adalah olahraga. Seperti
kebanyakan olahraga pada umumnya, otot-otot kita akan bekerja lebih berat dari
biasanya. Untuk itu diperlukan peregangan dan pemanasan ringan sebelum mendaki.
Ini banyak sekali diabaikan ketika hendak mendaki. Dan yang didapat adalah Kram
dan kecapean.
Tidak harus seperti ibu-ibu yang lagi
senam, pemanasan bisa dilakukan dengan menyenangkan. Kita bisa berjalan-jalan
kecil ketika berada dibasecamp. Melihat keadaan sekitar. Jangan biasakan duduk
terlalu lama ketika menjelang pendakian, maksudnya ngirit tenaga eh... kram
yang didapat.
2. Berjalan terlalu cepat
Ini tentunya relatif, karena kemampuan tiap
orang pastinya berbeda-beda. Kalau berkelompok pilihlah yang paling lambat
sebagai acuan. Resiko dari berjalan terlalu cepat adalah cepat lelah, cepat
haus dan cepat lapar dan yang paling parah adalah kita akan sakit.
Atur ritme berjalan yang paling nyaman
tidak terlalu cepat dan juga tidak terlalu lambat. Buat perjalanan menjadi
semenyenangkan mungkin. Jika memulai pendakian di siang hari, tentu juga agar
jangan sampai melewatkan indahnya jalur pendakian. Dan kalau malam hari,
kestabilan ritme perjalanan adalah kunci agar tubuh tetap hangat. Berjalan cepat
akhirnya juga istirahatnya lama, dan kelamaan istirahat terutama ketika malam hari akan
membuat suhu tubuh cepat sekali turun dan akhirnya kedinginan.
Berjalan perlahan juga berfungsi juga agar
tubuh beradaptasi dengan suhu sekitar. Untuk
itu dibangunlah pos-pos pendakian disepanjang jalur pendakian dengan jarak
ketinggian tertentu. Biasanya yang baru pada nyoba-nyoba naik gunung ini,
semangatnya ga ada yang ngalahin, pengennya jalan terus pas besok turun baru
kerasa pegel atau pas nyampe rumahnya.
Kepraktisan dan waktu masak yang singkat
membuat mie instan ini menjadi makanan sejuta umat pecinta gunung. Tapi kandungan
kalorinya yang kecil sebenarnya tidaklah cukup untuk mendukung energi yang
dibutuhkan ketika mendaki. Meski hanya satu atau dua kali, masaklah nasi, pilih
waktu ketika istirahat sedikit lama atau pas nge-camp. Kalau kepepet, roti
mempunyai kadar kalori yang lebih bagus dari mie instan
memang benar, salah satu yang bikin naik
gunung menyenangkan adalah kebersamaan dengan teman-teman. Tapi diusahakan
tetap harus istirahat yang cukup.
