Liburan di Gunung Sumbing (Mencoba Jalur Bowongso)


Jalur Bowongso… jalur ini tidak  sepopuler pendakian gunung sumbing yang lainnya. Rasa penasaran dan juga karena sudah lama tidak mengunjungi Gunung Sumbing akhirnya membawa kaki kami untuk mendakinya melalui jalur bowongso ini. Dan untuk waktunya kami mengambil pada lebaran hari ke 3 dimana kebanyakan kawan-kawan punya hari libur. 

Selasa pagi 27 Juni kami berempat berangkat dari Yogyakarta menuju ke Bowongso. Estimasi perjalanan sekitar 2,5 sampai 3 jam dengan kecepatan yang wajar. Jalur yang kami pilih adalah alternatif magelang – Wonosobo. Alasannya karena jalur ini lebih singkat dan tentunya lebih sepi daripada harus lewat Temanggung. Jalur ini sudah tidak begitu asing, mungkin hanya jalan masuk menuju ke Desa Bowongsonya yang sedikit bikin bingung. Seperti biasanya, Google Maps menjadi andalan untuk menunjukkan jalan kami. 

Sekitar jam setengah 11 siang kami sudah sampai di basecamp Bowongso… suasana tampak sepi siang itu. di dalam basecamp hanya ada kami saja, jadi tentu saja terasa nyaman hehe.. sudah ada gelaran tikar yang bisa kami pake untuk istirahat. Fasilitasnya cukup bagus dengan beberapa kamar mandi dan toilet dengan airnya yang sangat cukup. Dan yang paling penting, kami bisa pesen makanan di tempat ini juga. Akhirnya tak lama kami selesai makan dan waktu sholat zuhur sudah sampai. Karena letak masjid tidak terlalu jauh, kami segera saja menuju ke sana. 

Selepas zuhur, cuaca sedikit mendung bahkan Gerimis, hampir saja itu membuat jadwal pendakian kami tertunda. Pikirku ketika itu,… kalau kelamaan di basecamp dan hujan turun  akan lebih membuat badan berat untuk melangkah, jadi kami putuskan untuk segera melangkah saja.  

Kami berangkat setelah melengkapi perbekalan dan membayar retribusi sebesar 10ribu/orang. Nah,.. jarak dari basecamp sampai ke pintu pendakian (Gardu Pandang) sekitar 2 Km. jarak yang lumayan jauh, mungkin satu jam lebih baru akan sampai. Tapi di basecamp disediakan jasa angkutan untuk ke menuju ke pintu hutan. Memang pendaki bisa saja jalan kaki dari basecamp. Tapi kami memilih untuk menggunakan jasa angkutan. Selain hemat waktu dan tenaga juga sekalian ikut menyumbang untuk penghasilan warga setempat. 

Jam 2 siang kurang seperempat kami mulai naik pickup yang mengangkut kami. Enaknya kalau naik angkutan, kita bisa liat pemandangan sambil ngobrol-ngobrol. Meski siang itu kabut lumayan tebal namun tidak begitu mengurangi keindahan di sekitar kampung Bowongso. Yang semakin lama semakin nampak jauh. Dikiri kanan kami menghampar luas ladang penduduk dengan dominasi tanaman tembakau dan sawi.. (saya bingung bedain kalau masih pendek2 :D) … ternyata cukup jauh juga jaraknya, mungkin kami akan menghabiskan tenaga dari makan siang kami hanya untuk sampai di Gardu Pandang. 


Sekitar 15 menit kami sampai di perbatasan ladang penduduk, parkiran Swadas namanya. Dari sini kami kami harus berjalan kaki sendiri. tak lupa berdoa kami sebelum mengawali langkah kami… jalan di depan masih berupa jalanan makadam, setelah melompati sebuah kali kecil kami sampai di Gardu pandang. Karena baru saja kami berjalan kami lewati saja gardu pandang itu tanpa mampir. Di depan masih beberapa ladang kecil yang dipisahkan menjadi beberapa petak dengan tanaman utama masih tembakau dengan diselingi sawi dan brokoli. Jalan yang kami lewati masih basah dan sedikit licin. Mungkin belum lama turun hujan dan kemungkinan di atas sana masih turun hujan. Meski mendaki sambil hujan-hujan punya sensasi tersendiri, namun sepertinya kita sedang tidak kepingin untuk hujan-hujanan. 

Beberapa menit telah terlewati, kami mulai masuk di jalur hutan. Tanah liat yang sedikit licin cukup membuat kami harus hati-hati melangkah. Pepohonan di jalur ini didominasi dengan lamtoro dengan semak-semak yang cukup lebat seperti yang biasa terjadi di musim hujan. 

Sekitar satu jam dari Gardu pandang kami akhirnya sampai juga di pos 1 (Taman Asmara). Entah kami yang berjalan terlalu cepat atau memang jarak dari Gardu pandang sampai pos 1 ini terasa sangat singkat. Tapi nampaknya karena kami masih cukup keyang waktu itu. pos 1 ini cukup luas muat sekitar 4 tenda dengan kapasitas pertendanya 4 orang. Kemiringanya tidak terlalu curam dengan dikelilingi semak-semak. 

10 menit mungkin kami istirahat di pos 1 sampai kami beranjak meneruskan perjalan. Satu catatan penting dalam pendakian ini adalah, bahwa kami hanya membawa air minum yang tidak terlalu banyak. rencanannya kami akan mengambil air di sumber mata air yang berada di pos 2 untuk keperluan masak-memasak, syukur-syukur bisa kami gunakan untuk minum. jalur menuju ke pos 2 masih tidak jauh berbeda dengan jalur sebelumnya. Mungkin hanya sedikit lebih curam. 

Sebelum sampai di pos 2 ada satu tempat lagi yang mungkin bisa digunakan untuk sitirahat. Namanya Camp Plalangan, namun karena jaraknya yang tidak terlalu jauh dengan pos 1 maka kami hanya lewat saja di tempat ini. 


Sesekali kami harus menundukkan kepala karena beberapa ranting patah yang ada di atas kepala. Mungkin ini akibat hujan yang masih lebat di lereng ini, bahkan ada satu pohon lamtoro yang tumbang dan manutup jalan hingga membuat kami harus sedikit memutar. Dilihat dari patahannya, pohon itu mungkin tumbang sudah dari kemarin. Karena terbatasnya alat kami tidak bisa berbuat banyak untuk menyingkirkan pohon itu.

Dan, apa yang tidak bergitu kami inginkan hadir juga. Hujan mulai turun meski tidak terlalu deras. Dan tampaknya kami harus segera memakai jas hujan. Jalan yang semakin terjal dan hujan yang turun semakin membuat langkah kami sedikit melambat. Saya pikir semakin ke atas hujan akan semakin reda, namun ternyata malah tambah deras. Jalan yang kami lewati juga berubah menjadi jalur air. tapi tidak mengapa, nikmatin aja.. toh sudah lama tidak hujan-hujanan di Gunung. 

Hampir jam 4 sore dan kami belum juga sampai pos 2 dan guyuran hujan masih tetap tidak surut. Setelah mengambil nafas dan kembali melangkah, kami menemui percabangan. Namun karena adanya petunjuk maka kami tidak bingung untuk mengambil jalur yang mana. Satu tempat datar yang muat satu atau dua tenda. Saya pikir inilah pos 2, dan kami istirahat di sana. Tempatnya cukup nyamana karena ada satu pohon yang bisa menahan air hujan. 

Karena kami belum sempat sholat asar, maka kami putuskan untuk sholat di tempat ini. Tak jauh dari tempat ini kami lihat petunjuk untuk menuju ke sumber air. botol kosong langsung saya ambil dan menuju ke mata air itu sekalian ambil air wudhu. Ternyata tidak sampai 5 menit sudah sampai di tempat air satu-satunya itu..sempat juga sedikit kecewa, sebelumnya sempet terngiang dengan jalur pendakian Kaliangkrik. Waktu itu musim hujan, tapi airnya tetep jernih. Tapi di jalur Bowongso ini ternyata airnya sedikit keruh. Mungkin karena derasnya hujan dan air hujan ikut masuk ke sumber air. 

Selepas sholat asar kami lanjutkan perjalanan dengan masih hujan yang belum reda. Tidak terlalu susah untuk mencari jalannya, tinggal ikuti petunjuk yang sudah ada. Kalau dari sumber air sedikit ke kanan menuju ke punggungan sebelah kanan. Mungkin baru sekitar 5 menit kami sudah sampai di pos 2 (Bogel). Ditandai dengan sebuah pohon yang berdiri sendiri. Mungkin di tempat ini bisa muat 3-4 tenda. Namun karena kami sudah cukup lama istirahat sambil sholat asar tadi maka kami terus jalan saja. 


Dari pos 2 ini Gunung Sindoro bisa terlihat dengan jelas. Tampak semakin indah dengan langit yang mulai memerah menandakan hari sudah mulai sore. Meski masih gerimis sunset ini nampaknya terlalu sayang kalau dilewatkan, maka kami sedikit menikmatinya.

Sedikit menjauh dari pos 2 sebentar saya memandang agak jauh ke jalur yang akan kami lalui. Nampak di kejauhan sana seperti sebuah tenda dengan warna kuning. Mungkin di sanalah letak pos 3, cukup jauh dan melihat kemiringannya mungkin bukanlah tempat yang cukup luas untuk kami mendirikan tenda. Dan mempertimbangkan teman-teman dan saya sendiri yang sudah cukup lelah. Kami tidak berencana untuk camp di pos 3. 

Air tampaknya sudah mencapai telapak kaki merembes melalui pori-pori sepatu. Ponco yang sudah bolong sana-sini juga tak cukup kuat menahan air hingga kaos saya jadi basah kuyup. Meski begitu, nampaknya rasa dingin basah harus kami tahan sebentar sampai dapat tempat yang cukup datar untuk kami mendirikan tenda. 

Langit sudah cukup gelap saat kami sampai di sebuah padang sabana yang cukup luas. Untunglah di tempat itu ada spot yang cukup untuk tenda kami. Langsung kami bongkar tenda kami. Dengan menahan dingin kami dirikan tenda dengan cepat agar bisa segera istirahat dan masak. 

Sekitar jam 9 malam hujan pun berhenti. Malam itu begitu sepi, sama sekali tidak ada yang lewat pada malam itu. mungkin jalur ini memang tidak terlalu ramai atau mungkin juga masih dalam suasana lebaran. Namun dari kejauhan kami dapat melihat beberapa kerlip lampu senter para pendaki di lereng Gunung Sindoro. Sindoro… kalau teringat, mungkin jalur yang kami lewati ini sedikit lebih enak karena banyak trek yang landai. 

Sambil ngobrol tak jelas, akhirnya masakan kami matang juga. Tak sampai dingin kami langsung memakannya karena perut memang sudah cukup lapar. Mungkin benar kalau apa saja masakannya, kalau di Gunung tetep enak rasanya. Nasi dengan telor ditambah indomie goreng sudah cukup mantap mengganjal perut. 

Meski belum terlalu malam, nampaknya badan yang lelah membuat kami merasa ngantuk. Setelah pakaian yang basah kami tata diluar kami segera mempersiapkan diri untuk tidur. Saking lelahnya sampai-sampai saya tidak sadar teman-teman saya sudah mendahului ke alam mimpi. 

3:30 pagi mata ini sudah terbuka… masih ada beberapa waktu sampai datang waktu sholat subuh. Perlahan saya bangun dan keluar tenda untuk buang air kecil. nampaknya cuaca pagi itu cukup cerah karena beberapa bintang dapat terlihat. Kembali saya masuk ke dalam tenda, namun nampaknya teman-teman saya juga belum bangun dari tidur mereka. Dan saya juga kembali masuk ke dalam sleeping bag, memakai celana pendek di pagi itu ternyata cukup dingin juga. 

Satu persatu teman-teman saya bangun dari tidur.  Biasanya kebiasaan kalau pagi di Gunung adalah menanti sunrise, namun kalau dari jalur Bowongso ini cukup susah juga untuk mendapatkan sunrise. Paling tidak harus mendaki sampai cukup dekat dengan puncak. Tapi itu sudah tidak mungkin karena jarak puncak dari tempat kami ngcamp cukup jauh. Mungkin masih 2-3 jam perjalanan. karena itu mending nyantai-nyantai aja sambil manasin air buat bikin kopi. 

Cuaca pagi itu cukup cerah meski bekas-bekas hujan kemaren masih menyisakan lembabnya. Berada di dalam tenda tetep paling nyaman dan cukup membuat malas untuk menuju ke puncak. Namun kasihan juga dua teman saya sama sekali belum pernah melihat puncaknya Gunung Sumbing. Paling tidak mereka harus sampai puncak meski hanya sampai di puncak kawah. 

Sekitar setengah tujuh pagi akhirnya kami bertiga memutuskan untuk ke puncak. Setelah sarapan dengan mie goreng dengan telur akhirnya kami meninggalkan satu teman kami untuk jaga tenda karena dia juga males mau untuk jalan ke puncak. Syukurlah, jadi nanti dia akan jadi juru masak ketika kami sampai di tenda lagi. Lumayan untuk menghemat waktu turun. 

Awal perjalanan selalu terasa berat, ditambah rerumputan yang basah. Celana yang kemaren kehujanan baru saja kering dan sudah kembali basah. Belum melihat trek yang terlihat jelas di depan cukup terjal. Semua itu makin membuat bayangan kalau jalan ke puncak tidak akan mudah. Ah yang penting dinikmatin saja sambil terus melangkah, nanti lama-lama juga sampai di puncak. 

Mungkin sekitar 30 menit lebih kami baru sampai di pos 3 (zorro). Tempat yang rencanannya akan kami jadikan sebagai tempat untuk camp. Ternyata tempatnya memang cukup sempit. Meski muat tenda, tapi mungkin agak kurang nyaman karena sedikit miring. Untung saja kami kemaren kami tidak jadi memutuskan buat tenda di pos 3 ini. 

Dari pos 3 ini vegetasi sudah didominasi pepohonan cantigi dan beberapa edelweis. Sedikit lega, karena pepohonan ini menandakan kalau puncak semakin dekat. Meski begitu jalur yang kami lalui semakin tambah terjal. Beberapa kali bahkan harus berhenti untuk ambil nafas. Yah… tidak ada gunanya juga cepat-cepat, toh puncak juga tidak akan kemana-mana.

Mie instan, masaknya cepat dan rasanya juga sudah dijamin gurih. Namun dibalik itu, baru dipake jalan beberapa langkah saja sudah tidak menyisakan tenaga. Mungkin sudah setengah jam dari pos 3 kami berjalan. Saya putuskan untuk berhenti sambil mengeluarkan biskuit yang masih tersisa untuk mengganjal perut. Dari tempat kami istirahat nampak sedikit samar jalur pendakian Garung. Satu tempat yang sedikit luas dengan beberapa tenda berdiri, sepertinya itu Pestan. Ternyata jalur Garung cukup ramai juga waktu itu. teringat sebuah kenangan lama ketika mendaki lewat jalur itu, bagaimana trek sebelum pestan yang membuat lutut ngilu. 

Jam tangan sudah menunjuk pukul 7:55 pagi… nampaknya kami harus segera melanjutkan perjalanan ke puncak. Tidak nyaman juga nanti kalau terlalu siang. Namun perut rasanya sangat tidak nyaman, sepertinya biskuit yang kami makan tidak ada efeknya sama sekali. Dan celakanya kami sudah tidak bawa makanan lagi.  

Cuaca terasa semakin panas dengan sedikit angin berhembus. Perlahan kami terus berjalan hingga akhirnya kami mencapai puncak kawah Gunung Sumbing tepat pukul 9 pagi. Ah.. lega rasanya… saya langsung mencari tempat yang enak buat duduk. Dan sambil duduk membayangkan nikmatnya kalau ada satu cangkir kopi lengkap dengan cemilannya. Tentu akan sangat nikmat sembari melihat Gunung Sindoro yang nampak kecil dari puncak Gunung Sumbing. 

Sindoro 

Pagi itu langit sangat cerah dengan warna yang biru menawan. Mungkin akan sangat indah menjadi background di kamera. Saya baru ingat, kamera saya tinggal di tenda. Entah kenapa pada pendakian ini saya rasanya malas untuk mengambil gambar. Mungkin karena sudah ada yang bawa kamera jadi sekali-kali saya. 

Pemandangan di kaldera tidak begitu berbeda dari satu tahun lalu ketika saya lewat Kaliangkrik. Sebuah makam yang masih sering diziarai warga setempat masih ada di sana. Tampak seseorang tengah duduk di sampingnya. Di sudut lain juga nampak sekitar 4 orang sedang berjalan di kawah yang nampak putih itu. memang sudah tidak ada aktivitas kegunungapian dari Gunung Sumbing. Lain dengan pasangannya, sindoro yang saat ini masih terus mengeluarkan gas belerang yang cukup pekat. 

Kaldera Sumbing

Nampaknya teman-teman saya sudah cukup puas dan cukup lapar pula. Saya mengajak mereka berdua untuk segera turun. Tak lupa saya mengontak teman saya yang ada ditenda untuk segera menyiapkan makanan. Jadi nanti ketika kami bertiga sampai di tenda makanan sudah siap. Seperti itulah bentuk kerjasama yang baik dan menyingkat waktu hehe.. 

Mugkin dibutuhkan waktu sekitar satu jam untuk turun di tempat tenda kami berdiri. Namun hari yang semakin panas dan perut yang lapar membuat langkah kami sedikit lambat. Inilah yang terjadi kalau malas. Padahal lebaran seperti itu di rumah pasti banyak makanan yang bisa dibawa. 

Matahari yang semakin tinggi nampaknya membuat hawa di puncak semakin panas. Karena itu kami bertiga sedikit-demi sedikit melangkah meninggalkan puncak. Di depan kami juga ada satu kelompok yang tengah sama-sama turur. Nampaknya mereka kelompok yang mendirikan tenda di atas pos 3. 

Sambil turun, saya segera menghubungi teman yang berada di tenda untuk segera masak. Jadi nanti ketika kami sampai langsung makan. Dan bisa segera berkemas dan siap-siap untuk turun menuju ke basecamp. Meski kami tidak buru-buru tapi lebih cepat kami turun akan lebih baik. Karena kemungkinan jika sore hari akan turun hujan dan semakin menambah berat perjalanan. 

Sindoro Dari Atas Pos 3 

Memang perjalanan turun nampak lebih cepat, baru saja kami berjalan pos tiga sudah terlihat di depan mata. Atau lebih tepatnya, sebuah tenda kuning yang berada di atasnya. Meski nampaknya kami harus berjalan beberapa menit lagi untuk sampai di tempat itu. saya hanya melihat-lihat saja ketika salah satu teman mengambil beberapa foto di sekitar kami berhenti. Nampaknya kabut sudah mulai naik, jauh di depan yang terlihat hanya warna putih saja. Ternyata jarak pos 3 sampai tempat tenda kami berada masih cukup jauh. Dari pos ini tenda kami sama sekali tidak terlihat. Bahkan sampai beberapa meter ke depan. 

Hampir jam sebelas siang ketika kami mulai melihat tenda kami yang warna-warni. Pakaian basah yang kami pakai kemaren sore menjadi hiasan yang terpajanng di atas tenda. Karena dari pagi tadi cukup panas saya kira semua pakaian itu bisa kering. 

Sabana Sumbing via Bowongso


Jam 11 tepat kami sampai di tenda kami. Makanan yang kami pesan ternyata sudah siap. Tentu saja setelah kami beristirahat sebentar kami langsung memakannya. Tidak seperti menu tadi pagi, kali ini ada nasinya ada telurnya juga. Tentu, ini sudah cukup disyukuri, setidaknya kami akan menuruni gunung ini dengan perut yang kenyang. 

Akhirnya perut yang dari tadi merintih-rintih bisa diam juga. Dan selanjutnya adalah bongkar-bongkar. Kami sudah janjian dengan teman yang camp di pos 3 untuk bisa turun bareng. Meski begitu sebelum kami selesai beres-beres teman-teman itu sudah sampai di tenda kami. Karena tidak enak, akhirnya mereka saya minta untuk duluan saja. 

Jam dua belas lebih sedikit kami selesai beres-beres dan langsung bergegas untuk turun. Jalan yang kami pakai masih sama jalan waktu naik kemaren. Kabut cukup tebal hingga siang itu, membuat suhu cukup lembab. Tapi ada untungnya juga, setidaknya bisa terhindar dari panasnya matahari. 

Hanya beberapa menit kami berjalan, saya sudah sampai di pos dua. Karena masih ada teman yang di belakang saya berhenti di pos ini. beberapa kelompok sempat berpapasan dengan kami. Nampaknya pada lebaran hari ke empat ini jalur sudah mulai ramai. Setelah kelompok lengkap kami langsung melangkah lagi untuk segera turun. Cuaca yang masih bisa berubah-ubah, daripada kehujanan mending segera turun. 

Mungkin kami harus sedikit mengurangi kecepatan. Tampaknya teman kami yang kemaren baru saja sakit masih belum kuat untuk diajak jalan cepat-cepat. Tidak buru-buru juga kami harus sampai Jogja. Yang penting tidak terlalu malam di jalan. Karena dengan badan yang lelah tidak terlalu baik kalau berkendara di malam hari. 

Mendekati camp plalangan kami bertemu dengan beberapa kelompok. Salah satunya dari Jakarta, nampaknya dihari lebaran ke-4 ini teman-teman yang jauh mulai berdatangan. Sayang tidak bisa ngobrol banyak, sekedar menyapa saja dan berbagi informasi ringan tentang medan yang akan mereka lalui. 

Sampai di pos Plalalngan kami berhenti sebentar. Tampaknya rasa haus kami harus dihapus dengan air yang kami ambil dari sumber air kemaren. Yah… meski sedikit keruh tapi tidak apalah, mungkin justru air keruh ini lebih baik daripada air kemasan. 

Hari masih siang meski kabut membuat suasana menjadi redup. Tak lama kami berjalan kami sudah sampai di pos 1, namun kami hanya lewat saja di pos ini. karena tanggung juga kalau mau istirahat di tempat ini, mungkin tidak akan terlalu lama kami sudah sampai di gardu pandang. 

Masih cukup siang ketika kami sampai di Gardu Pandang, baru jam 2 ketika itu. DI gardu pandang ini sudah menanti teman-teman yang akan kami ajak untuk sama-sama naik pickup ke basecamp. Biar ngirit pikir kami. Namun teryata, jika penumpang lebih dari 5 orang per-orang dikenakan tarif 10ribu. Dan jika dibawah 5 orang dihitung satu mobil 50ribu. Tapi tidak apa-apa daripada jalan sampai ke basecamp yang jaraknya sampai 2 kilo itu. 

Dan pukul 3 sore kami sudah meinggalkan basecamp Djoegil Awar-awar. Meski masih ada beberap hal yang belum sempat kami lakukan, salah satunya mencicipi Bowongso Kopi. Sedikit kecewa namun justru itu mungkin jadi alasan untuk kembali ke tempat itu dilain waktu. Kabut yang tebal menghalangi pandangan ke arah puncak Sumbing mempermudah kami melangkah kembali ke Rumah… 



Peta dan Estimasi jalur Bowongso

0 Response to "Liburan di Gunung Sumbing (Mencoba Jalur Bowongso)"

Post a Comment

tinggalkan jejakmu ...