Lain Sisi Gunung Lawu, Mencoba Jalur Pendakian Candi Cetho

Merancang rencana…

Sebagian orang mungkin akan sangat sibuk di hari Lebaran. Banyak kegiatan yang dirancang khususnya yang berhubungan dengan tradisi silaturahim yang sudah turun-temurun dilakukan masyarakat kita. Sebuah tradisi yang bahkan membuat kagum, bahkan orang-orang dari negara-negara Islam. Biasanya, beberapa hari akan dihabiskan untuk keliling dari lingkup terdekat hingga ke yang lebih luas.

Namun ada beberapa orang yang sedikit ingin merasakan sensasi tersendiri seperti merayakan lebaran dengan naik Gunung. Seperti temen saya, yang pada H-2 sudah bilang pengen naik gunung. Katanya pengen yang deket-deket, dengan jarak tempuh yang singkat. Usulnya sih ke gunung Prau, berangkat pada lebaran ke 2 karena pada hari sabtunya dia reunian dengan temen-temennya. Tapi saya pengennya ke Lawu lewat candi Cetho berangkat pada hari sabtu (lebaran ke-4, kalo masih disebut lebaran hehe.. ) tawar menawar terus berjalan melalui WA sampai pada H-1…

Malam lebaran, sudah habis Isya’ dan kata sepakat belum muncul. Dalam suasana di jalan sambil ikut takbir keliling masih juga tawar menawar.. ane tetep pada pendirian untuk ke lawu dan teman saya masih pengen ke Prau. Dia menghubungi pada malam lebaran kalau mau naik ke Lawu dengan syarat berangkat pada hari Rabu atau lebaran hari pertama. Setelah dipikir-pikir akhirnya ane iyakan saja.

Kegiatan pada malam hari lebaran ternyata baru bisa selesai pada jam 01:00 dan baru bisa tidur pada jam 02:00 dan bangun pada 04:00. Rencana kecil untuk istirahat sudah dirancang, setelah sholat iedul fitri langsung pulang. Sekali-kali tidak ikut kerja bakti beres-beres lapangan hehe… lalu pulang, berkunjung ke tetangga terdekat… dan kemudian tidur menebus kurang tadi malam…

Rencana tinggal rencana… bagaimanapun juga tidak tega mau langsung pulang setelah sholat ied.. beres-beres lapangannya baru selesai jam 9 lebih sedikit. Pulang langsung keliling tetangga terdekat. Tapi ya itu… walaupun sudah diringkes sedemikian juga tetep aja selesai jam 12 lebih… masih 2,5 jam sebelum jam keberangkatan yang kami sepakati … jam 1 akhirnya selesai packing…

Pukul 14:00 langsung meluncur ke rumah teman satu-satunya. Sampai rumahnya, suasananya sepi ga kayak lagi lebaran. Udah ngucapin salam nyampe tiga kali ndak ada jawaban juga… menurut aturan harusnya tamu harus pulang kalo udah tiga kali salam ga ada respon… tapi kan ini tamu kurang ajar hehe… berhubung pintu ndak dikunci dan sedikit terbuka, langsung aja ane masuk.. ternyata yang punya rumah sedang molor. Ah… enak-enakan dia molor sini, ane yang mau nyari waktu barang 1 jam buat tidur aja ga dapet-dapet. Ya udah yang penting dia bisa segera bangun dan bergegas berangkat.

 

Menuju Candi Cetho

Setelah semua siap, kami berdua langsung tancap gas menuju candi Cetho. Jarak dari yogykarta sekitar 100 Km, namun jadi lebih jauh karena kami tidak start dari pusat Kota. Tidak jadi masalah karena kami memang tidak terlalu keburu-buru. Yang penting maghrib sudah sampai di Candi Cetho.

Beberapa menit perjalanan awal jalan masih ramai karena melewati dekat pemukiman. Suasana lebaran begitu terasa dengan aktivitas orang-orang yang berdandan rapi hendak silaturahim dengan sanak saudara dan tetangga. Sungguh pemandangan yang baru bagi kami, karena baru kali ini kami pada hari pertama lebaran sudah begitu jauh meninggalkan rumah. Biasanya hari pertama itu seharian habis buat keliling-keliling. Terlihat juga salah satu mini market tetep saja ramai, jadi keinget kalau kaleng gas udah kosong. Jadi mumpung keinget kami mampir saja.

Lima sampai sepuluh menit kami mulai memasuki Ring-Road suasananya udah mulai beda. Lalu-lintas tampak lebih sepi dari hari-hari biasanya. Tentu karena sebagian yang memenuhi kota Jogja pada balik ke kampung halamannya masing-masing. Nyaman sekali rasanya kalau tiap hari lalu-lintasnya seperti ini. Hampir tidak terasa kami sudah masuk ke jalan Jogja-Solo. Suasanya juga tidak jauh beda dari suasana sebelumnya terasa lengang dan sepi. Hingga tanpa sadar kami sudah sampai di kota klaten kemudian Solo. Kami istirahat sebentar sebelum kota Solo menuju karanganyar sambil ngambil  duit di ATM sekaligus mampir untuk Sholat Asar.

Selepas sholat asar ternyata kami sadar hari sudah sangat sore, mungkin kami tidak akan sesuai dengan rencana semula sampai di Candi Cetho Sebelum Maghrib. Karena itu kami tetap hanya melaju pelan mungkin rata-rata hanya hanya 50 Km/Jam, mungkin kalo yang sering touring kalo Cuma naik motor ke candi Cetho hanya 2 jam sudah cukup… kami sudah masuk ke jalan Raya Solo-Tawangmangu ketika sudah mulai gelap. Kami berhenti sebentar ketika azan maghrib dikumandangkan.

Karena memutuskan untuk menjamak dengan sholat isya’ kami terus melanjutkan perjalanan. Meski udah pernah ke candi cetho namun saya sedikit bingung !  karena ketika itu menggunakan mobil ditambah sekarang kondisinya sudah gelap. Daripada kelamaan mikir nginget-nginget jalan, akhirnya ane beberapa kali bertanya untuk memastikan jalan. Sambil melengkapi beberapa kebutuhan mampir warung sambil bertanya. Nah… setelah beberapa belokan inget juga jalannya. Sayang udah gelap, padahal kalau siang hari pemandangan jalan menuju candi Cetho indah banget dengan perkebunan tehnya. Sampai juga kami di tanjakan yang cukup merepotkan karena sambil belok, di depan kami juga ada mobil mogok yang tengah didorong oleh beberapa anak-anak dengan ikat kepala khas Bali. Tampaknya mobil itu sempet ngadat karena si supir tidak hafal sama tikungannya.

 

Tiba di Candi Cetho

Wuih… sepi sekali suasana di area candi Cetho, meski beberapa warung masih buka. Sangat berbeda dari pertama kali ke tempat ini, ya jelas… karena waktu itu di siang hari hehe… pertama kali yang harus kami lakukan tentunya adalah harus mencari tempat untuk menitipkan motor. Meski kami ada di sebuah tempat parkir, namun ternyata tempat itu tidak ada yang menjaganya, hanya siang hari saja kata bapak yang jaga. Tentu dia juga memberi saran untuk dititipkan di penitipan lain yang memang khusus untuk pendaki. Jaraknya tidak terlalu jauh, mungkin hanya sekitar 50 meter.

Dari informasi yang saya dapat dari ibu yang punya titipan sepeda motor basecampnya terletak di sebelah pintu masuk candi. Namun ketika kami sampai di sana, kok sepi ? ternyata mas yang jaga basecamp sudah tidur hehe… padahal baru jam 7 malem. Mungkin karena kami berisik dia jadi bangun hehe… Namanya Anggara, orangnya ramah dan baik hati. Setelah kenalan kami segera membereskan barang-barang. Di sebelah pos jaga ada sebuah pondok kecil ukuran 5X4 meter. Didalamnya ada tenda yang sudah siap pake, kata mas Anggara itu memang khusus disediakan untuk pendaki yang akan istirahat. Wes… pokokknya fasilitas yang disediakan maksimal meski sederhana. Namun yang penting kita sebagai pendaki sudah bisa beristirahat dengan nyaman.

Tak berapa lama kami mendengar suara yang cukup rame dari depan candi. Mereka ternyata anak-anak yang ndorong mobil tadi. Baru saya tau kalo mereka siswa dari Bali yang hendak melakukan kegiatan Ibadah di Candi Cetho. Memang candi Cetho ini masih aktif digunakan sebagai tempat ibadah pemeluk Hindu disekitar Candi Cetho dan juga tujuan ziarah yang kebanyakan dari Bali.

Malam itu kami berdua ngobrol-ngobrol dengan mas anggara sekaligus nanya-nanya seluk beluk jalur candi cetho ini. Maklum, ini kan pertama kalinya kami naik lewat jalur ini. Secara singkat, mas anggara mengatakan bahwa jalur ini sedikit memutar dibandingkan dengan jalur Cemoro Sewu atau Cemoro kandang. Namun untuk pemandangannya sangat-sangat indah dibanding dua jalur yang lainnya. Untuk memantapkan kami, mas anggara sampai mengeluarkan semua koleksi foto yang dia simpan di dalam HP-nya. Meski sudah pernah melihat di pesbuk tapi yang ini lebih komplit dan detail.

Ah… keasyikan ngobrol sampai lupa waktu ! Jam 11 malem kami masih belum tidur. Padahal rencananya sampai basecamp akan bayar hutang malemnya yang kurang tidur. Tapi mungkin udah jadi kebiasaan buruk ditambah kalau udah ketemu temen ngobrol jadi lupa waktu. Akhirnya sekitar jam 11 lewat saya harus mengakhiri obrolan dengan mas teman saya dan mas anggara. Tentu setelah sholat isya’ kami segera masuk ke tenda yang udah disiapkan di tempat ini.

Entah sudah berapa lama kami tertidur, sekitar jam 2 pagi ada suara rame-rame dari luar tenda yang bikin ane kebangun. Meski tidak keluar dari tenda tapi juga tidak bisa tidur lagi. Entah berapa orang yang tengah ngobrol di luar sana. Dari logatnya sih tidak asing mereka-mereka ini. Daripada penasaran, ane keluar aja dari tenda. Ah.. ternyata setelah kenalan, mereka-mereka ini dari Bantul…”…  woalah cah mBantul” begitu komentar ane hehe,.. akhirnya malah ngobrol-ngobrol lagi…. weis… bakalan melek nyampe pagi ini kalo diterusin. Daripada besok ngantuk, ane pamitan aja mau nerusin ngorok… anak-anak yang dari bantul itu kemudian bongkar-bongkar bawaan mereka.. hingga ane udah ga denger lagi suara mereka…zzzZZzz

Entah jam berapa ane sempet kebangun, anjingnya mas Anggara menyalak-nyalak. Mungkin ada orang yang lewat ! pikirku waktu itu. daripada penasaaran mending keluar tenda untuk memastikan. Ternyata memang benar ada orang yang tadi melintas didepan basecamp. Entah mau ke mana tapi arahnya menuju ke jalur pandakian. Entah kenapa mas Anggara tidak kebangun ya,… ah daripada ngantuk mending nglanjutin tidur lagi.

Tit…tit… tit..tit… berulang-ulang… heran, biasanya ane ga pernah denger alarm jam tangan ! daripada heran mending langsung nyari air wudhu trus siap-siap sholat subuh... tentu sambil menunggu masuk waktunya sholat subuh tak afdhol kalo ndak ngopi hehe.. untuk kita dikasih ijin pake kompor di basecamp. Jadi ndak perlu susah-susah bongkar peralatan. Tak lama ane masak air, kang fauzan teman saya satu-satunya juga bangun. Bunyi azan sudah terdengar dari HP ane, disusul dari masjid di kejauhan sana.. kami berdua langsung mengerjakan sholat subuh…

Setelah ngopi,.. mulailah perut memberi kode untuk segera diisi. Mau masak sendiri kok males dengan ribetnya… sekalian jalan-jalan mumpung udara masih seger kami nyari aja warung di sekitar Candi Cetho. Beberapa warung masih belum buka, hampir saja putus asa namun satu warung memberi harapan bagi perut yang sudah minta diisi. Meski baru berbenah namun kami bertanya apakah ada sesuatu yang bisa kami makan hehe.. ternyata si Ibu warungnya memberikan daftar menu yang bisa kami pesan. Nasi goreng aja… siapa tahu nasi goreng di sini beda dengan yang di rumah. Mungkin kalau lebih siang kita bisa memilih berbagai makanan namun ini sudah lebih dari cukup jadi bahan bakar diperjalanan nanti.

 

Langkah Awal…

Pukul 07:15 kami sudah selesai makan pagi, karena sudah tidak ada lagi sesuatu yang harus dilengkapi kami langsung menuju basecamp untuk packing. Pagi itu begitu cerah, puncak gunung Lawu nampak di sebelah Utara Timur sana… hanya beberapa barang kecil saja yang perlu kami beresi dan setelah itu langsung memulai perjalanan…

Pintu masuk pendakiannya bisa melewati pinggir candi Cetho meski sebenarnya ada jalan lain yang lebih cepat. Namun karena temen saya pengen lihat Candi dari makannya kami milih jalan yang ini. kemudian kami melewati area kuliner di sebelah candi, setahun lalu ane ke sini tidak sempat melihat-lihat sekitar candi karena sempitnya waktu. Meski masih pagi namun ternyata sudah ada beberapa wisatawan yang berada di kawasan candi. Selain candi cetho ada beberapa obyek yang bisa wisatawan kunjungi seperti pemandian Dewi Saraswati. Dinamakan demikian karena di pemandian ini ada patung Dewi Saraswati. Dan kebetulan jalur pendakian ini juga akan melewati sebuah situs Candi Kethek.

Setelah melewati sungai kecil yang kering ternyata candi kethek yang ada di peta itu sudah kelihatan. Tidak seperti candi cetho, candi kethek ini terlihat lebih tua. Tidak seperti namananya kethek (kera) yang saya bayangkan ada beberapa kera yang ada di sini, seperti di tawangmangu. Namun ternyata dari dekat terlihat ada semacam arca kera di puncak candinya. Kami hanya lewat saja, mungkin esok hari pas kita turun bisa mampir. Jadi kami ambil jalur kekiri dan kemudian kanan mengikuti jalan setapak dipinggir ladang. 

Pos 1

Mungkin sudah hampir setengah jam perjalaanan, namun kami juga belum bertemu pendaki lain. Mungkin teman yang telah lebih dahulu berangkat dari kami sudah sampai di pos 1 atau bahkan pos 2. Karena info yang kami terima dari mas anggara kalau jalur ini sangat panjang jadi kami santai aja jalan sambil menikmati ladang penduduk. Beberapa penduduk juga terlihat dari kejauhan sedang beraktivitas di ladangnya.

Sepertinya emang jalur ini jarang dilewati dilihat dari jalan yang cukup banyak rumput dan ilalang di kanan-kirinya.   Dari kejauhan terlihat ada pohon kering yang cukup mencolok. Entah pohon apa, mungkin terkena sambaran petir hingga bisa sampai kering. Tak sampai lima menit kami akhirnya sampai di pos 1 yang ternyata terletak di samping pohon yang kering itu.

Meski sederhana di pos ini ada sebuah shelter yang cukup besar, mungkin untuk 6-8 orang muat. Terbuat dari sisa-sisa banner vinil namun saya pikir cukup untuk menahan dingin dan hujan. Saya lihat jam tangan, mungkin sekitar 45-50 menit perjalanan dari basecamp. Sedikit meneguk air sambil menikmati suasana pagi ini. mungkin hanya 5 menit kami di pos 1 ini kami lanjut lagi biar tidak terlalu lama sampai di pos 5.

Jalur dari pos 1 jalur candi cetho ini sudah sedikit menanjak degan tanah yang lengket. Rumput-rumput juga cukup lebat di kanan-kiri. Pohon-pohon disekitarnya juga lebih lebat daripada jalur sebelum pos 1. Sepiiii…. Sesekali terdengar suara burung-burung entah dari sebelah mana, namun cukup menghibur dan menemani perjalanan kami. Setengah jam perjalanan mungkin sudah berlalu tanda-tanda pos 2 juga belum terlihat.

Memang tak salah melewati jalur Candi Cetho ini. pohon-pohonan tinggi masih banyak di sepanjang jalur menuju ke pos 2. Udara sedikit lembab, mungkin karena sinar matahari tidak cukup sampai di dasar hutan ini. sudah sambil ngobrol tapi tanda-tanda pos 2 juga belum terlihat. Jalanan di depan terlihat cukup sempit, mungkin lebih mirip parit. Dan benar juga ternyata jalannya licin hingga kami harus sedikit berhati-hati. 

Pos 2

Memang harus bersusah-susah dulu baru kemudian senangnya didapat.. setelah melewati parit yang mirip jalan tadi kami sampai di pos 2 juga. Ada beberapa pohon besar di pos ini, mungkin 3 yang paling mencolok dan satu pohon yang terbaring di tanah dan di pohon yang ini kami berdua duduk-duduk. Hampir sama di pos sebelumnya, ditempat ini juga ada shelter yang terbuat dari vinil meski tidak sebesar yang ada di pos 1. 

Nampaknya lelah sudah menghampiri. Efek kurang tidur selama dua hari baru terasa ketika dipake jalan sedikit lama. Akan tetapi Kami hanya sebentar saja di pos 2, karena rencananya kami akan istirahat sedikit lama ketika di pos 3 sambil makan siang. Katannya sih di pos 3 ini ada jalur air yang bisa diambil.

Jalan menuju pos 3 sedikit menanjak daripada jalur sebelumnya. Dikanan kiri tanamannya juga sedikit berbeda, sebagian ditumbuhi dengan pohon lamtoro. Kicauan burung sesekali terdengar di sepanjang jalan dibarengi dengan kabut tipis. Perut sudah mulai lapar membuat langkah semakin berat. Untungnya, jalur candi cetho ini sangat rimbun jadi tidak terlalu panas.

Pos 3

Dari kejauhan terdengar suara gemericik air, saya hanya menebak kalau kami sudau sedikit menekati sumber air yang bisa kami gunakan. Bayangan saya daari bawah ketika diberi informasi kalau ada sumber air yang bisa diambil, adalah sebuah sendang kecil yang mirip dengan sendang Derajat yang ada di atas sana. Namun setelah dekat bayangan saya itu sirna ketika melihat sebuah pipa pvc yang berlubang mirip saluran air di Gunung merbabu. Dan disitulah kami bisa mengambil air.

Ternyata, letak pos 3 masih sekitar 20 meter dari tempat kami mengambil air. Sempat bingung bagaimana kami harus ambil air yang mengalir cukup deras di dalam pipa ini. Namun ternyata lubang pipa itu cukup besar untuk dimasuki botol aqua. Dan ketika melihat air yang cukup melimpah, teman saya langsung berhasrat untuk buang air. Ya sudah, terpaksa harus diturutin daripada nanti jadi beban. Sambil menunggu teman saya yang ternyata sangat lama buang airnya, ternyata ngantuk dan hawa semakin dingin. Mungkin efek dari lapar ya, sambil menunggu saya sampai bikin api kecil-kecilan. Nengok jam tangan waktu itu mungkin sekitar pukul 10:45.

10 menit sudah mungkin saya nunggu temen saya hingga akhirnya dia kembali dengan wajah yang lebih cerah. Kamipun langsung menuju ke pos 3 yang sudah nampak shelternya. Setelah membongkare peralatan dan bahan masak langsung saja kami mulai acara masak-memasak. Tentu saja kami masak beras karena energi cukup besar, yang tidak cukup bila hanya makan mie instan. Meski sedikit lebih lama namun tidak jadi mengapa, itung-itung sambil istirahat.

Banyak yang kami obrolkan sambil menunggu berasnya matang. Mulai dari masalah sehari-hari hingga masalah negara hehe.. tak terasa akhirnya nasi sudah matang, mungkin terbilang lama juga waktu yang kami butuhkan untuk masak. Tentu agar beras tidak gosong api yang kami gunakan cukup kecil. Setelah matang dan sudah ada yang menemani nasinya tanpa menunggu kami langsung makan. Meski dengan lauk seadanya karena kami hanya bawa telur doang hehe…

Perut sudah cukup terisi, tinggal sholat lalu kemudian kami akan langsung melanjutkan perjalanan. Dengan beralaskan mantel hujan kami sholat berjamaah. Udara siang itu cukup dingin dengan suasana yang cukup sepi. Tidak ada seorangpun yang menyusul perjalanan kami ketika itu.

Selesai sholat dan beres-beres… tiba-tiba ada yang masih perlu ane bereskan. Perut masih tidak nyaman meski sudah diisi dengan nasi. Ternyata perut saya perlu di kuras juga ! rasanya sudah tidak tertahankan. Serasa sudah berada di ujung.. menguji pertahanan !... langsung saja saya ambil nesting setelan diisi air. sambil terus menjaga pertahanan saya mencari tempat yang strategis untuk melakukan ritual ini… sempat putus asa juga karena semua tempat nampak terbuka. Ah namun peduli amat.. pertahanan sudah hampir jebol. Akhirnya dengan menggunakan ranting pohon saya buat lubang untuk mengendapkan isi perut…

Lega rasanya… pas ketika teman saya yang baik hati kembali dari mengisi kembali persediaan air kami, selesai juga ritual saya. Selesai kami pastikan semua sudah terangkut dalam carrier perjalanan kami lanjutkan kembali pada sekitar jam 14:00. Jalur menuju ke pos 4 masih tidak terlalu berbeda dengan jalur sebelumnya dengan tanaman mayoritas berupa pohon lamtoro dengan beberapa pohon pinus.

Nampak pipa saluran air di jalur yang kami lewati. “Semoga saja para pendaki sadar dan tidak menginjak atau melakukan hal yang dapat merusak pipa ini” itulah yang saya katakan pada teman saya. Seperti yang terjadi pada jalur pendakian Gunung Merbabu via Wekas. Pipa-pipa di sana ada beberapa yang pecah entah itu sengaja atau tidak. Belum selesai kami ngobrol, tercium bau yang sedikit kurang sedap. Setelah semakin mendekati sumber bau kami perhatikan ternyata itu adalah bangkai anak kijang. Dari cerita mas Anggara anak kijang ini mati karena digigit anjing. 

Pos 4

Dari cara teman saya berjalan terlihat sepertinya dia juga sudah mulai kelelahan. Sesekali kami berhenti untu mengatur nafas dan melihat sekitar. Jalan menuju ke pos 4 seperti sedikit berbelok mendekati jurang. Karena itu mungkin pemandangannya lebih menyenangkan dari jalur-jalur sebelumnya. Hanya menebak saja karena tidak mendengar suara azan, tapi dari yang saya ingat itu sudah masuk waktu sholat asar. Sampai juga kami di pos 4.

Di pos 4 ini juga ada satu shelter yang bisa digunakan. Didepannya juga dibuat sebuah tempat duduk dari potongan pohon, cukup nyaman untuk digunakan jika hanya ingin istirahat sebentar saja. Namun mungkin karena rasa kantuk yang sangat, kami berdua sama-sama ketiduran. Mungkin hampir 10 menit kami tidur di pos 4 itu. Hampir setengah 4 ketika kami terbangun dan segera melanjutkan perjalanan. Meski sudah tidak terlalu ngantuk namun melihat cara teman kami jalan, terlihat sudah sangat lelah. Sesekali kami berhenti. Cukup cerah waktu ketika hari mulai sore, hanya kabut tipis tapi tidak cukup menghalangi pandangan ke bukit sebelah.

 

Pos 5

Entah seperti apa lelahnya kalau tidak ada rimbunnya pohon, pasti sangat panas sekali dan tentunya boros air. Tapi jangan salah, meski begitu jalur lewat candi Cetho ini terbilang sangat panjang. Kami yang jam 8 pagi berangkat dan ini sudah hampir jam 4 saja belum sampai di pos 5. Atau mungkin kami yang jalannya terlalu pelan ya atau terlalu lama di pos 3 yang sampai 3 jam tadi ya. Kalau seperti itu kadang baru sadar kalau sudah bukan belasan lagi, baru selangkah dua langkah sudah haus.

Masih didominasi dengan pepohonan lamtoro jalan menuju ke pos 5 ini. banyak jalan yang ditutup karena mungkin sudah longsor. Dan jalan yang baru lebih jauh walaupun lebih landai. Sesekali menengok kebelakang, barangkali ada teman yang nyusul. Namun, kok ya sepi-sepi saja, entah teman-teman Bantul yang bareng dengan kami di basecamp tadi sudah sampai mana. Entah sudah sampai berapa tikungan, mungkin 3-4 kali. Suasana didepan tampak memberi semangat, terlihat beberapa pohon pinus. Ya, setidaknya dari informasi mas Anggara kami tahu kalau pos 5 berada diantara pepohonan cemara.

Satu tanjakan yang cukup curam yang baru kami tahu kalau itu jalan pintas setelah sampai di atas. Sampailah kami di pinggir hutan pinus, beberapa pohon nampak menghitam bekas kebakaran beberapa saat yang lalu. Suara daun-daun cemara yang terkena angin begitu sangat menyenangkan. Ditambah di sebelah barat matahari sudah mulai turun. Melihat jam tangan baru jam 4:25 sore.. sambil istirahat kami mengambil beberapa foto mumpung masih inget. Biasanya kalau udah lelah suka lupa ambil gambar hehe… 

sebelum sabana


Nah… ini dia yang dinanti-nanti… jalanan yang kami lewati mulai landai selandai-landainya… didepan kami terbentang sabana yang luas. Bunga-bunga kuning yang entah namanya apa begitu indah menghiasi jalan menuju ke pos 5. Nah setelah melewati rumpun bunga kuning itu saya sempat terkejut… ada warna kemerahan yang bergerak-gerak ditengah jalan… saya pikir apaan, begini kalau sudah lelah ditambah lupa kacamata. Setelah dekat ternyata ada orang laki makan di tengah jalan, mungkin saking lapernya sampai tidak sempet nyari tempat yang lain. Ah ini ternyata teman yang ketemu di basecamp tadi pagi. Setelah menyalami kami langsung beranjak. 

Ini nih tempat yang paling kondang dari jalur Candi cetho ini “Bulak Peperangan”. Spot ini paling banyak diposting temen-temen yang melewati jalur ini. ah… semakin lega sudah sampai di tempat ini. Tapi sepertinya teman saya belum lega juga. Entah apa yang terjadi dengan perutnya, sibuk dia nyari semak buat buang isi perut hehe… angin semilir sore itu sedikit dingin… sempat saya pakai jaket. Perut juga sudah sangat lapar sekali. sambil menunggu teman saya , pengennya sambil masak,tapi karena nanggung, sekalian saja nanti sampai di pos 5. 

bulak peperangan


Hoahmmp… rasa ngantuk sangat berat ditambah rasa lapar yang cukup sangat. Cukup lama juga sampai teman saya selesai dari ritualnya. Sekitar jam 5:20 kami beranjak dari bulak peperangan. Sedikit rencana kami rubah karena masih belum terlalu gelap. Yang sebelumnya mau camp di pos 5 kami geser sampai sekalian di Hargo Dalem.

Semilir angin kami selepas bulak peperangan. Sedikit terasa dingin disamping rasa kantuk yang sangat. Saya jadi curiga, jangan-jangan ada yang tidak beres dengan tubuh saya. Mungkin HB saya yang rendah yang membuat aliran oksigen kurang banyak yang diserap tubuh. Atau mungkin karena sudah dari pagi tidak minum kopi.Bahkan sambil berjalan saja mata dengan sendirinya bisa terpejam. Akhirnya saya memutuskan untuk membangun tenda di tempat ini.

Tenda dengan cepat langsung dikeluarkan dari carrier, untung saja langsung dapat tempat yang cukup nyaman. Disekitarnya penuh dengan pohon pinus dengan daun-daunnya yang mengeluarkan suara cukup khas ketika tertiup angin. Meski sambil menahan kantuk saya tetap membantu mendirikan tenda. Dan dalam waktu singkat saja tenda sudah berdiri. Semua bawaan dimasukkan dan bersiap untuk masak.

Tak menunggu lama kami langsung memulai acara masak-memasak. cukup singkat saja ketika itu, makanan sejuta pendaki ‘mie instan’ dengan lauk nasi hehe… aneh memang, yang penting bisa mengisi perut dan mengembalikan energi. Meski sangat ingin minum kopi tetap saya tahan, sekali-kali minum susu. Sekaligus mungkin baik dalam kondisi tubuh yang sangat lemes seperti ini. tak beberapa lama matang sudah masakan kami. Dan langsung kami makan, lumayan buat ganjal perut.

Mungkin sudah sekitar jam 8 malam ketika semua sudah selesai kami bereskan. Suasana sangat gelap karena di awal bulan, bulan tidak bersinar. Sesekali terdengar suara daun pinus sedikit keras, menandakan angin bertiup sedikit kencang. Tidak ada orang yang lewat di malam itu. Bahkan ketika keluar sambil buang air, saya mencoba melihat-lihat di kejauhan juga tak nampak adanya cahaya. Ah… memang dalam suasana seperti ini enaknya tidur. Meski tanpa dipejamkan mata otomatis terpejam sendiri…

Baru saja terpejam… tiba-tiba terdengar suara hujan menerpa tenda kami. Biasanya kami selalu memasang flysheet tambahan ketika hujan, karena flysheet dari pabriknya kadang kurang bagus menahan air. Tapi tubuh ini sudah sangat berat mau digerakkan. Untuk teman saya yang baik hati sangat pengertian. Dia sendirian memasang flysheet tambahan di atas tenda kami. Selesai pasang teman saya langsung menyusul tidur… meski saya masih sempat mendengar dia berkata kalau hujannya sudah reda kembali. Untunglah, karena kalau hujannya sangat dengar tenda kami bisa banjir…

 

Bangun Pagi…

4:05 pagi saya dan teman saya sudah terbangun… rasanya tubuh saya sudah sangat segar, penuh tenaga hehe… mungkin benar memang kurang kopi. Makannya, langsung saya panaskan air untuk menyeduh kopi. Ditambah dengan makan beberapa roti yang masih tersisa. Sebenarnya sih kami pengen masak nasi, namun karena takut kelamaan kami makan yang praktis-praktis saja. Tak lupa kami sholat subuh dengan berjamaah kemudian mempersiapkan peralatan untuk menuju ke Hargo Dumilah.

Sekitar jam 05:20 pagi kami sudah siap, langsung saja kami memulai perjalanan. Masih cukup gelap ketika itu. baru beberapa langkah dari tenda, kami melihat ada tenda tak jauh dari tempat kami. Mungkin karena kalah dengan suara daun pinus semaleman kami tidak mendengar mereka. Langsung saja kami lewati, mungkin nanti bisa bertemu di puncak atau di hargo dalem.

Tempat yang kami lalui selanjutnya adalah sebuah lembah yang cukup luas, mungkin mirip dengan Kalimatinya Gunung Semeru. Ada sebuah telaga yang kering, hanya menebak saja kalau tempat ini adalah Kubang Menjangan yang dimaksud oleh mas Anggoro. Namun sayang ketika kami lewat tidak ada airnya. Katanya kubang Menjangan ini biasa terisi air yang bisa juga digunakan oleh para pendaki.

 

Sunrise…

Semburat kuning kemerahan sudah nampak di sisi kiri kami selepas dari Padang sabana.. kami menaiki beberapa bukit dengan sesekali mengambil gambar. Saya perhatikan juga dikejauhan nampak Gunung Bromo dan Semeru begitu kecil terlihat. Saya jadi sadar kalau lawu ini adalah perbatasan dengan Jawa Timur.  Tak heran jika tipe gunungnya hampir mirip. Dengan jalannya yang berputar-putar namun juga sangat indah.

 

 

Pasar Dieng

Memasuki pasar dieng serasa seperti tengah menuju ke sebuah reruntuhan kota kuno. Ada banyak sekali tumpukan batu yang tampak rapi seperti bekas pondasi sebuah bangunan atau mungkin sebuah candi atau tempat ibadah jaman dulu. Matahari yang baru saja terbit nambah lebih aduhai lagi. Namun kami tidak berlama-lama di tempat ini karena harus segera menuju ke puncak. Ditambah dengan banyaknya tempat yang akan kami lewati sepanjang perjalanan nanti. 

pintu masuk pasar dieng

Hargo Dalem

Ini adalah tempat paling ramai di Gunung Lawu. Tempat yang diyakini masyarakat sekitar sebagai tempat moksa Brawijaya 5. Banyak sekali bedeng atau tempat beristirahat yang terbuat dari seng, hingga mungkin hampir mirip dengan sebuah perkampungan. Sebagai pusatnya sebuah Pendopo utama yang biasanya digunakan untuk Ritual masyarakat setempat. Ada beberapa pusaka yang diletakkan di pendopo ini. 

shelter-shelter di hargo dalem

Hargo Dalem

Salah satu yang sudah mendunia di Hargo Dalem adalah Warung Mbok Yem. Satu-satunya warung yang ada di puncak Gunung. Namun sayang saat itu mbok Yem sedang merayakan Idul Fitri di kampung Asalnya, jadi warungnya tutup. Warung-warung yang lain juga tutup ketika itu. Meski begitu mungkin justru jadi sensasi tersendiri, jarang-jarang di tempat ini kalau di hari-hari biasa. hanya beberapa langkah dari warung Mbok Yem ada persimpangan jalur yang dari Cemoro Kandang.

 

Hargo Dumilah

Banyak jalan untuk sampai di puncak, Hargo Dumilah adalah puncak utama gunung Lawu. Kami ambil saja persimpangan ke arah kanan yang pertama. Di kiri-kanan jalur menuju puncak ini banyak sekali pohon edelweis. Katanya dulu ada juga yang warna bunganya Ungu meski beberapa kali ke tempat ini saya tidak beruntung melihatnya. Jalanannya sedikit nanjak untuk menuju ke puncak. Tapi tidak terlalu lama kita sudah memasuki kawasan Hargo Dumilah. Ada beberapa bangungan semi permanen yang juga terbuat dari seng. Kalau tidak bawa tenda bisa juga digunakan sebagai tempat untuk istirahat.

Puncak utama di tandai dengan adanya sebuah Tugu dengan ketinggian sekitar 3 meter. Bahkan dari kejauhan tugu ini sudah bisa dilihat, sehingga bisa juga difungsikan sebagai bantuan navigasi. Hanya ada beberapa kelompok waktu itu dengan jumlah orang yang tidak terlalu banyak. cuaca yang cukup cerah pagi itu hingga kami bisa melihat ke segala arah dengan cukup puas. 6:36 pagi kami sampai di puncak Gunung Lawu.

Kami sedikit bergeser ke sebelah puncak di sebuah tebing atas telaga Kuning, karena menurut ane tempat ini yang lebih nyaman untuk nongkrong sambil melihat pemandangan sekitar. Terlihat Gunung Merapi- Merbabu, Sumbing-Sidoro bahkan Slamet di kejauhan sana tampak samar-samar. Ternyata di sini sudah ada beberapa orang. Sempet kami ngobrol-ngobrol lama dan foto-foto. 



07:30 kami beranjak pergi dari Hargo dumilah, masih ada satu lagi spot yang kami rencanakan untuk disambangi. Sendang Derajat ! disamping emang mau ngambil air, ini juga untuk mengobati rasa penasaran teman saya yang dulu tidak sempat nyampai di situ pada pendakian pertamannya.

Sendang Derajat

Mungkin hanya sekitar 15 menit kami sudah sampai di Sendang Derajat. Tampak sepi juga tempat ini, padahal di tempat ini biasanya juga ramai. Warung yang ada juga tutup, ada beberapa perubahan yang saya rasakan di Kawasan Sendang Derajat ini. salah satunya mungkin kamar mandinya, atau mungkin pada 2011 lalu ane yang tidak cukup melihatnya ya… tapi tidak jadi masalah, kami siapkan saja botol-botol yang akan kami isi air.

Air di tempat ini masih seperti dulu, jernih dan segar, sayang fotonya hilang... air di sini bisa  langsung diminum tidak perlu disuling-suling atau dimasak dulu. Segernya bahkan melebihi air mineral yang kondang itu yang kata teman-teman banyumasan namanya ‘enyong-A’. meski botol-botol sudah kami isi, kami tidak langsung pergi, sejenak duduk-duduk sambil ngobrol dengan beberapa teman-teman. Ada yang naik lewat cemoro sewu dan juga cemoro Kandang. 



Sekitar pukul delapan pagi kami menginggalkan Sendang Derajat. Meski baru jam 8 namun sudah terasa matahari menyengat. Mungkin asyik kalau turunnya melewati cemoro sewu atau cemoro kandang, mungkin lain kali saja. Menuju ke Hargo dalem juga terasa cukup berbeda dari pendakian sebelumnya, ada beberapa bangunan baru yang berdiri. Beberapa pendopo dan rumah-rumah dengan model Jawa.

Sempet membayangkan dan berharap, nanti ketika sampai di warungnya Mbok Yem, sudah buka dan langsung pesen makan hahaha… perut sudah lapar emang bawaannya berkhayal terus.. ! daripada benyak berkhayal kami sedikit mempercepat langkah agar segera sampai di tempat camp kami. Singkat saja kami sudah sampai di padang Sabana yang mirip dengan Kalimatinya Semeru, dilanjutkan di Kubang Menjangan dan kemudian sampai di tenda kami. 

kubang menjangan

Siap-siap Turun…

Ternyata ndak salah kami memilih tempat untuk ngeCamp, meski sudah sekitar jam 9 kurang tempat itu masih cukup rindang. Angin semilir dan suara daun pinus seperti musik klasik yang membuat ngantuk. Kami masak-masak sambil istirahat… tentu kali ini kami masak nasi. Kalo Cuma mie instan nanti belum sampai pos 2 udah ilang tenagannya. 



Rencananya sih mau pake telur lauknya… tapi teman saya satu-satunya ini emang unik.. ada aja hal-hal yang kadang bikin ketawa-ketawa jengkel. Mungkin udah kelelahan, telur yang mau dipake lauk dengan enak dia injek. Padahal ditaruh sendiri kok ya masih bisa keinjek. Tapi tidak jadi masalah masih ada satu telur lagi. Meski tidak cukup komplit namun cukup nikmat, sekedar bisa untuk mengganjal perut dan memberi tenaga buat kembali ke basecamp. 

Selesai kami makan langsung kami bereskan tenda, kami masukkan semua ke dalam carrier dan siap-siap meluncur. Sebenernya masih pengen juga berlama-lama di sini, tapi bekalnya sudah tipis hehe,.. mungkin lain kali bisa bawa bekal yang lebih banyak biar bisa menikmati istimewanya jalur Candi Cetho Lawu ini. setelah semua siap kami langsung beranjak meninggalkan tempat kami tidur semalam.

 

Perjalanan Turun…

Jalan yang kami lalui sama seperti jalur kami naik kemaren… bulak Peperangan menjadi tempat pertaman yang kami lewati. Tempat yang menjadi tempat favorit yang dipakai teman-teman buat foto ini nampak sepi. Mau foto-foto tapi kok kayaknya kalo siang-siang hasilnya jadi kurang mantep. Kami sekilas aja lewat untuk menuju ke sabana. Kembali kami haru menyibak bunga-bunga kuning yang menutupi jalan, tapi justru itu asyiknya melewati tempat ini. 


Tak lama kami sudah mulai memasuki Hutan kembali, kami berhenti sejenak. Ada sesuatu yang menarik perhatian kami !sebuah awan putih besar nampak perlahan menuju ke arah kami. Kami perhatikan saja, lama kelamaan menabrak tebing didepan kami. Tak lama tebing dan didepan kami sudah tertutup kabut, dasar jurang juga tak lagi kami bisa melihatnya.

Menuruni bukit itu kami akan kembali berkelok-kelok melewati jalur menuju ke pos 4. Tapi jangan bilang-bilang, karena kami penasaran dengan jalur-jalur yang ditutup kami coba untuk mengecek. Ternyata memang jalurnya cukup berbahaya karena beberapa ada longsor. Meski begitu cukup membuat waktu tempuh kami lebih cepat menuju ke pos 4.

Kami hanya lewat saja di pos 4 karena kami ingat kalau ini hari Jum’at. Beberapa kali pendakian melewati hari Jum’at keinginan kami untuk Jum’atan belum juga kesampaian. Mungkin inilah waktu yang pas untuk menjadikan kenyataan keinginan kami itu. langkah sedikit kami percepat, hingga tak terasa kami sudah sampai di tempat anak Kijang yang mati. Kali ini saya sempatkan mencari sesuatu untuk mengangkat bangkai anak kijang tersebut. Akhirnya dapat sebuah ranting yang cukup kuat, minimal cukup untuk menggesernya agar tidak berada tepat di tengah jalan.

Mendekati pos 3 kami berpapasan dengan beberapa teman yang naik. Ada yang dari Jakarta, Semarang, Sragen dan beberapa yang ane lupa satu-persatu. Hanya beberapa langkah kemudian kami sudah sampai di pos 3. karena letak tempat yang bisa diambil airnya masih sedikit ke bawah, kami hanya lewat saja di pos ini. Ada dua orang yang tengah beristirahat di tempat air, anak Jakarta Juga. Naik motor juga dari Jakarta… bener-bener hebat.

Keringat sudah dingin hingga menjadi begitu lembab di tubuh,… dingin rasanya… namun ketika ambil air wudhu terasa begitu segar… tidak banyak tempat yang datar di sekitar tempat ambil air ini. meski begitu ada yang bisa kami berdua jadikan sebagai tempat melaksanakan Sholat Jum’at. Pertama adalah pembagian tugas, karena hanya dua orang tentu semuanya meragkap tugasnya. Teman saya yang dari kata-katanya udah layaknya ustadz, tentu dia menjadi khatib merangkap imam ditambah emang beliau sering jadi khatib di masjid deket rumahnya. Ane yang orang biasa ini cukup menjadi muadzin merangkap makmum.

Sudah tidak ada lagi yang perlu dipersiapkan ane langsung azan setelah pak khatib mengucap salam… rasanya sangat mengharukan bisa azan di sini... entah kenapa, mungkin karena kami dari pertama melangkah naik sama sekali tidak mendengar azan di jalur ini. Tentu saja setelah itu khatib berkhutbah… poin dari khutbahnya adalah menegaskan kembali peran kita di atas bumi ini ! setelah selesai saya iqomah dan kemudian sholat.

Selesai sholat jum’at kami segera melanjutkan perjalanan. meski jaraknya tidak terlalu jauh jarak antara pos 3 dengan pos 2 namun kalo perjalanan pulang rasanya lama banget. Ternyata hari ke-dua lebaran ini sudah cukup ramai ada beberapa kelompok yang tengah naik. Jalanan menuju pos dua terlihat masih kering seperti kemarin. Mungkin di sini juga tidak hujan, meski begitu beberapa tempat sedikit licin.

Sampai di pos 2 terlihat beberapa teman sedang istirahat, tidak perlu ditannya lagi karena hanya kami berdua yang turun. Tentu mereka dalam perjalanan naik. Ada hal yang membuat perut ane lapar ketika sampai di pos ini. di bawah pohon paling besar di tempat itu, ada sebuah piring berisi nasi dengan paha ayam goreng. Perut langsung terasa lapar…disampingnya ada sebuah lilin yang masih menyala dan beberapa tangkai bunga. Mungkin itu belumlah lama ditaruh.

Dari pada tergoda dengan paha ayam kami langsung saja meluncur turun karena melihat jam juga sudah semakin sore. Baru beberapa langkah terdengar suara beberapa orang bercanda. Yang kemudian kami tahu kalau merekalah si pemilik paha ayam yang ditinggal dibawah pohon itu. beberapa kali ada diantara merekan yang terpeleset karena memang sedikit licin jalan itu, mungkin karena tanahnya sedikit basah.

Selepas pos 1 nampak beberapa yang tengah menuju ke puncak. Kami mempercepat langkah untuk segera mencapai basecamp. Dalam hitungan menit saja kami sudah sampai di candi kethek. Kami istirahat sebentar di tempat ini dan melihat ramainya candi kethek. Hari lebaran ke-dua memang keramaian sudah bergeser di tempat-tempat wisata.

Setelah meneguk air yang tinggal sebotol kecil itu kami segera meluncur ke basecamp. Beneran di sepanjang jalan menuju ke basecamp sudah dipadati dengan wisatawan yang hendak menuju ke candi kethek. Aromanya wangi-wangi, lain mungkin dengan kami yang hampir 3 hari belum mandi. Tapi peduli apa, yang penting tetep pede aja hehehe… terlihat sudah pasar kuliner di samping candi cetho, tinggal milih mau makan apa.

Sempat bingung milih makan apa akhirnya kami tetep pada selera asal… nasi pandang hahaha… mau ke mana juga makannya tetep itu ! ya mau gimana lagi, daripada bingung trus nanti malah keburu pingsan mending langsung aja ambil makan di warung padang. Cepet ga pake ribet !

Selesai makan kami langsung menuju basecamp. Mungkin sekitar pukul setengah 4 kami sudah mendekati basecamp. Tampak di dalam candi cetho sangat penuh dengan pengunjung, sampai-sampai teman saya yang kemaren kepengen masuk tak lagi tertarik. “Cukup foto di sampingnya !” kata dia. Sampai di basecamp sudah ada beberapa orang yang akan naik pada sore hari itu. karena basecamp penuh, tempat disamping basecamp ternyata malah lebih nyaman di deket kandang elang jawa.

Mau sholat asar tapi kayaknya kok kurang nyaman kalo belum mandi, meski harus antri tampaknya tetep harus mandi. Mungkin sampai 3 sampai 4 orang baru dapat giliran masuk kamar mandi. Pokoknya seger kalo mandi di gunung.. meski sore hari tapi airnya sudah sedikit dingin. Agak lama juga mandinya berhubung udah 2 hari lebih tidak mandi. Selesai mandi langsung sholat asar lalu packing.

Setelah pamitan sama mas Anggara kami segera menuju ke tempat penitipan motor yang mungkin jaraknya sekitar 300 meter. Melewati depan candi masih nampak beberapa orang yang akan masuk ke candi Cetho. Mungkin tak sampai 10 menit kami sampai di tempat penitipan motor. Penuh ternyata tempat penitipan ini, padahal ketika kami masuk pada hari rabu malam hanya kami berdua yang nitip. Setelah kami membayar satu motor 10.000 kami langsung menghidupkan motor dan langsung meluncur turun.

Belumlah gelap ketika kami meninggalkan kawasan candi Cetho. Hamparan kebun teh nampak indah dilihat dari jalanan menuruni lereng candi Cetho. Jalanan ini sudah tidak sesepi ketika kami sampai. Beberapa kendaraan yang berlawanan dengan kami masih banyak, mungkin akan menuju ke candi Cetho. Beberapa motor juga terlihat menggendong carrier, mungkin mereka akan menuju ke puncak Lawu di atas sana.

Matahari begitu cepat turun atau kami yang terlalu pelan karena jalanan yang sudah padat. Ketika azan maghrib berkumandang kami masih ada di jalan menuju ke kota karanganyar. Mungkin kita jamak nanti setelah sampai di kota Solo atau kartasura. Meski pengennya segera sampai di rumah namun nampaknya badan ini sudah tidak bisa diajak ngebut. Pelan-pelan saja yang penting sampai rumah”… mungkin sekitar jam 7 malam kami sampai di kartasura. Kami istirahat sebentar untuk sholat maghrib dan Isya’. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan pulang yang masih tidak dekat… Alhamdulillah !! pukul 9 malam lebih sedikit kami sampai di rumah dengan selamat.

0 Response to "Lain Sisi Gunung Lawu, Mencoba Jalur Pendakian Candi Cetho"

Post a Comment

tinggalkan jejakmu ...