Merapi Jalur Selatan Menagih Janji. bag: Pertama




Pendakian gunung Merapi dahulu bisa dilakukan melalui jalur selatan, tepatnya di Dusun Kinahrejo, Cangkringan Sleman. Erupsi tahun 2010 telah membuat jalur ini hancur beserta Dusun Kinahrejo, tempat tinggal Juru Kunci Merapi Mbah Maridjan. 

Ketika masih duduk di bangku SMP ada salah satu guru yang menceritakan tentang pendakiannya ke merapi. Meski tidak begitu detail bagaimana dia mendaki Merapi, namun pada intinya ketika itu dia mendaki melalui jalur selatan. Di akhir cerita Dia berkata “memalukan pendaki kok naik merapi dari Boyolali”. Karena belum begitu tertarik dengan Mendaki Gunung, saya tidak begitu faham apa maksud dari kalimatnya itu. 

Setelah masuk SMA barulah saya mulai mendaki Gunung, pada pendakian ke sekian kalinya akhirnya saya punya kesempatan mendaki merapi, Melalui jalur Selo Boyolali. Banyak alasan kenapa lewat jalur ini, diantaranya adalah sempitnya waktu dan perbekalan yang sangat minim. 

Keinginan untuk mencoba jalur selatan pun akhirnya harus ditunda berkali-kali karena berbagai alasan. Meskipun begitu, tidak kurang dari sebulan sekali bersama kawan-kawan selalu camping di Kaliadem. Biasanya ditambah dengan treking-treking kecil menyusuri hutan di atas Bebeng yang kini ditutupi lahar dingin. Tak jarang juga mengikuti jalur pendakian meskipun hanya sampai Pos 1 (Srimanganti).

Baru belum lama ini keinginan untuk mendaki melewati jalur selatan ini muncul kembali. Awalnya hanya iseng menjajal sepatu baru.Selepas Asar, mulailah saya menyusuri jalur yang sekarang sedikit nampak berbeda ini. Bekas-bekas erupsi masih nampak meski sudah empat tahun terlampaui. Beberapa pohon hangus masih terlihat diantara pepohonan baru yang sudah mulai rimbun. 
tempat labuhan sementara
Tidak lama berjalan tibalah di  sebuah undak-undak dengan lantai berwarna abu-abu dengan  pohon beringin yang masih muda di sisi timurnya. Ini adalah tempat sementara diadakannya labuhan merapi  pasca letusan yang terhitung paling besar dalam dekade terakhir sejarah Merapi. Tak lama di sana saya meneruskan perjalanan.

Beberapa kali saya bertemu dengan pencari rumput sebelum akhirnya sadar bahwa ternyata di depan sudah terlihat gapura Sri Manganti (Pos 1). Setelah erupsi merapi 2010 Labuhan merapi diselenggarakan di tempat ini. Dahulunya labuhan diadakan di pos 2 (Pos Rudal) namun karena sekarang tinggal puing-puing maka tidak lagi diadakan di pendopo Pos rudal itu. 

Tiba di depan gerbang saya mencium aroma khas kayu yang terbakar, berjalan lebih jauh nampak flysheet warna orange di atas tenda berwarna keabuan. Ternyata ada orang yang tengah camping. Ada tiga orang dengan kaos yang seragam dan satu lagi mengenakan sorjan (baju khas jawa). Saya sempat mampir sebentar ngobrol bersama mereka sambil mencari informasi tentang jalurnya. 

Ternyata mereka berempat adalah satu kelompok Mahasiswa Pecinta Alam dari salah satu Universitas di Yogyakarta. Katanya sih Cuma iseng aja camping di situ, tapi dari perilaku mereka yang saya amati lebih dari sekedar iseng. Mereka ini tengah dalam sebuah pelajaran dengan didampingi oleh pembimbingnya hehe... 

gapura Srimanganti
Setelah dapat getuk gratis... perjalanan saya mulai, target adalah berjalan sampai maksimal pukul 5 sore. Jalan setelah Pos 1 ternyata masih rimbun dengan pepohonan lama, nampaknya area ini tidak terkena dampak erupsi secara langsung. Terus saja saya berjalan, hingga akhirnya sampai di sebuah pinggir jurang yang berkabut. Melihat jam tangan ketika itu baru jam setengah lima, namun belum lama berjalan saya sudah menemui jalan buntu. Bekas jalan lama sudah tertutup dengan tanaman berduri yang tidak mungkin dilalui tanpa membawa golok atau sabit. Tanpa berfikir panjang saya pun berbalik arah, mengingat waktu juga semakin sore. 

Saya mampir lagi di Srimanganti, ngobrol lumayan lama dengan kawan-kawan baru ini. Dan ternyata mereka juga belum pernah menyusuri jalur melebihi Sri Manganti. Mereka hanya berniat untuk menyeberangi sungai dan bukit menuju Kaliurang, sebelum ini mereka sudah menjelajah dari Klangon (klaten) menuju ke Srimanganti ini.
Sri Manganti dilihat dari Atas
Akhirnya tepat pukul lima sore saya pamit untuk turun ke Kinahrejo. Hawa semakin dingin dibarengi dengan embun tipis. Setengah jam lebih saya akhirnya sampai di Kinahrejo lagi, namun saya masih harus berjalan lumayan jauh sampai di tempat parkir dengan jalan aspal. Tidak disangka ada bapak-bapak dengan motornya menawarkan tumpangan, tanpa pikir panjang saya ikut saja.

 Sambil berjalan kami ngobrol-ngobrol dan saya bilang kalau mau naik ke Pos 2 tapi jalannya buntu. Dan dengan cepat bapak itu menyangkal. “bisa kok mas, saya baru tiga hari yang lalu nganterin orang mau ganti batre di pos pemantau” hah... “jalannya emang udah ganti mas, sebelum dapat yang jalan buntu itu harusnya ambil kiri” dia melanjutkan ! ah... nyesel juga... besok lain waktu dicoba lagi... bersambung...



2 Responses to "Merapi Jalur Selatan Menagih Janji. bag: Pertama"

  1. bagus mas.... bisa jadi refrensi jalur selatan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. makasih Mas, tetep hati-hati. sampai pos 2 sudah lumayan bagus kok.

      Delete

tinggalkan jejakmu ...