Militansi Kopi; Antara budaya dan sekedar iseng


Menunggu munculnya matahari terbit di puncak gunung sambil minum kopi, suatu kenikmatan yang tidak mudah diceritakan melalui kata-kata. Itu hanya bisa difahami ketika mengalaminya sendiri. Atau, kalau memaksa dijabarkan dengan kata-kata, itu seperti dua hal yang membuat kecanduan bercampur jadi satu dan saling menguatkan.

Tentang kopi ini, ada satu hal yang menarik ketika saya berbincang-bincang dengan seorang penyaji kopi, namanya Mas frans, di salah satu warung kopi. Fenomena warung kopi ini memang baru terjadi di yogyakarta beberapa tahun terakhir ini. Tepatnya kapan tidak ada yang mengetahui secara pasti, namun itu sedikit menggeser peran angkringan yang semula juga menjadi alternatif tempat minum kopi.

Bukan suatu kebetulan kalau kebanyakan warung kopi di Yogyakarta banyak terdapat di dekat area kampus. Karena memang budaya kopi ini dibawa dan dipopulerkan oleh para mahasiswa yang berasal dari luar yogyakarta. Kalau mas frans menyebu bahwa budaya yogya itu adalah budaya ngeTeh. Di mana kita berkunjung suguhan defaultnya adalah teh, pagi hari juga dibuka dengan  minum teh begitu pula sore dan di segala acara, begitu ungkapnya. 

Para mahasiswa yang mencari ilmu di yogyakarta kadang memerlukan waktu bertahun-tahun untuk menyelesaikan studinya. Sangat wajar jika ada perasaan kangen dengan nuansa kampung halamannya lengkap dengan kebiasaan ngopi. Beberapa orang melihat ini sebagai peluang bisnis, dan seperti yang kita lihat sekarang bagaimana warung kopi banyak menyebar di sudut Kota Yogyakarta. 

Lambat laun orang Yogya sendiri ikut sedikit demi sedikit menjadi penikmat kopi, mungkin termasuk saya, hee... Berbagai macam varian kopi mulai dikenalkan untuk memenuhi permintaan para penikmat sesuai selera masing-masing. Kebanyakan kopi yang beredar adalah varian dari jenis robusta yang memiliki rasa khas pahit. Sedangkan varian kopi arabika sangatlah jarang peminatnya.  

Selanjutnya para penikmat kopi ini bisa dikategorikan menjadi beberapa macam. Ada yang sekedar iseng, sekedar suka, sampai yang kelasnya militan. Mas frans mengatakan “Para militan kopi ini sudah tidak ngefek lagi dikasih kopi yang beredar di toko-toko, apalagi kopi yang iklannya gencar di TV, kopi asli yang 1 sachet hanya seribu rupiah, yang rasanya fals ! ”. "Di warung harga kopi paling murah saja empat ribu rupiah" lanjutnya !

Kemudian mas Frans menceritakan bagaimana proses pembuatan kopi. Dari cerita inilah saya akhirnya tahu bagaimana varian-varian kopi itu muncul. Rahasianya terletak pada proses pembuatan kopi, untuk membentuk rasa, kopi dicampur dengan beberapa bahan ! Ada yang dicampur dengan biji jagung, kacang hijau, beras, kelapa bahkan ada yang dicampur dengan bodrex hingga cukrik (tuak). Dua yang terakhir ini yang memberikan efek sangat hebat bagi peminumnya. Sekali merasakan nikmatnya, kopi-kopi yang lain serasa hambar. 

“Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya” setiap daerah tentu memiliki adat dan kebiasaannya sendiri-sendiri seperti, di Yogyakarta yang punya budaya ngeTehnya. Tidak ada yang lebih baik dari yang lainnya. Seperti kopi juga tidak lebih buruk dari Teh. Selama itu dinikmati dalam batas kewajaran tentunya. 

0 Response to "Militansi Kopi; Antara budaya dan sekedar iseng "

Post a Comment

tinggalkan jejakmu ...